The Dancing Plague
fenomena psikologis aneh di mana orang menari sampai mati di jalanan
Bayangkan kita sedang berjalan di alun-alun kota pada suatu sore musim panas. Tiba-tiba, seorang perempuan mulai menari sendirian. Awalnya terlihat wajar, mungkin dia sedang bahagia. Tapi berjam-jam kemudian, dia masih menari. Kakinya mulai berdarah. Wajahnya pucat pasi penuh ketakutan, tapi tubuhnya menolak untuk berhenti. Teman-teman, ini bukan adegan film horor fiksi. Ini adalah kejadian nyata. Tepatnya pada Juli 1518 di kota Strasbourg, Eropa. Namanya Frau Troffea. Dia adalah pasien nol dari salah satu epidemi paling absurd sekaligus mematikan dalam sejarah manusia: The Dancing Plague atau Wabah Menari.
Kalau kita melihat orang menari sampai pingsan hari ini, kita pasti langsung menelepon ambulans. Tapi di abad ke-16, respons pemerintah setempat justru akan membuat kita geleng-geleng kepala. Alih-alih menyuruh mereka istirahat, dewan kota malah berpikir bahwa orang-orang ini butuh lebih banyak tarian agar bisa sembuh. Jadi, apa yang mereka lakukan? Mereka membangun panggung kayu raksasa. Mereka menyewa pemain musik profesional. Mereka bahkan membayar penari tambahan untuk menemani orang-orang ini menari siang dan malam. Hasilnya adalah bencana total. Dalam beberapa minggu, Frau Troffea tidak lagi sendirian. Ratusan orang ikut turun ke jalan. Mereka berputar, melompat, dan berteriak dalam keadaan seperti kesurupan. Musik yang terus berdentum malah menjadi bensin yang menyiram api. Tubuh manusia jelas punya batasnya. Satu per satu dari mereka mulai berjatuhan. Serangan jantung, stroke, hingga kelelahan ekstrem merenggut nyawa puluhan orang setiap harinya. Mereka benar-benar menari sampai mati.
Pertanyaannya, kenapa? Apa yang membuat ratusan manusia sehat tiba-tiba kehilangan kendali atas tubuh mereka sendiri? Pada masa itu, masyarakat percaya ini adalah kutukan dari Santo Vitus. Konon, sang santo bisa menghukum pendosa dengan tarian kompulsif. Tentu saja, sebagai masyarakat yang berpikir kritis, kita butuh penjelasan yang lebih ilmiah. Puluhan tahun kemudian, para ahli sejarah dan medis mulai membongkar petunjuk. Muncul satu teori yang sangat populer: keracunan ergot. Ergot adalah sejenis jamur yang tumbuh di gandum lembab, dan jamur ini mengandung zat kimia yang mirip dengan LSD. Jadi, apakah mereka semua sedang berhalusinasi massal akibat makan roti beracun? Teori ini terdengar masuk akal, tapi ada celah besar. Kalau kita melihat literatur medis, keracunan ergot justru memotong aliran darah ke anggota tubuh. Pasiennya akan mengalami kejang yang menyiksa atau mati jaringan, bukan menari dengan lincah berhari-hari. Berhalusinasi mungkin saja, tapi berlompatan secara terkoordinasi? Secara fisiologis, itu mustahil. Jadi, kalau bukan karena jamur halusinogen atau kutukan dari langit, apa sebenarnya yang meretas otak ratusan orang di Strasbourg saat itu?
Di sinilah sains modern dan psikologi memberikan jawaban yang jauh lebih gelap, sekaligus lebih menyentuh. Jawabannya bukanlah penyakit fisik, melainkan apa yang di dunia medis disebut sebagai mass psychogenic illness atau penyakit psikogenik massal. Dulu kita sering menyebutnya histeria massal. Mari kita lihat konteks sejarahnya. Strasbourg di tahun 1518 adalah tempat yang sangat menyengsarakan. Teman-teman, bayangkan hidup di era di mana rentetan gagal panen, kelaparan ekstrem, wabah penyakit sifilis yang menggerogoti, dan ketakutan irasional akan siksa neraka terjadi secara bersamaan. Tingkat stres masyarakat saat itu sudah menyentuh level maksimal. Secara psikologis, ketika otak manusia dihadapkan pada penderitaan trauma yang melampaui batas toleransinya, sistem saraf kita bisa mengalami korslet. Otak akan mencari jalan keluar darurat untuk melepaskan tekanan mental yang meledak-ledak itu. Lalu, kenapa bentuknya harus menari? Karena secara kultural, "Kutukan Santo Vitus" sudah tertanam dalam di alam bawah sadar kolektif masyarakat saat itu. Tarian itu adalah satu-satunya script atau skenario perilaku yang otak mereka kenal saat akal sehat sudah hancur lebur. Mereka tidak menari karena gembira. Mereka menari karena pikiran mereka terperangkap dalam kondisi disosiatif. Itu adalah sebuah pelarian ekstrem dari realitas yang terlalu brutal untuk dihadapi.
Kejadian ini mungkin terdengar konyol bagi kita yang hidup di era modern. Tapi kalau kita mau merenung sejenak, wabah menari ini sebenarnya adalah cermin dari betapa rapuhnya, sekaligus betapa kompleksnya, pikiran manusia. Tubuh dan otak kita selalu terhubung dengan cara yang sering kali tidak kita sadari. Saat batin kita berteriak minta tolong namun lingkungan sekitar mengabaikannya, tubuh akan mengambil alih. Tubuh akan mengekspresikan rasa sakit itu, terkadang dengan cara yang sangat ekstrem. Hari ini, kita mungkin tidak lagi melihat orang menari sampai mati di jalanan. Tapi pernahkah kita menyadari, berapa banyak dari kita yang bekerja sampai burnout, kecanduan scrolling media sosial berjam-jam, atau terobsesi pada hal-hal tertentu hanya untuk lari dari stres dan kecemasan? Pada akhirnya, wabah menari ratusan tahun lalu ini bukan sekadar catatan sejarah tentang orang-orang aneh. Ini adalah pengingat yang sangat manusiawi tentang empati. Bahwa di balik perilaku manusia yang tampaknya paling tidak masuk akal sekalipun, sering kali tersembunyi luka psikologis yang sedang berjuang mencari jalan keluar.